OPINI

Uploaded:


INTERNET DALAM PARADOKS KOMUNIKASI



Kalau ada senjata pemusnah massal di era industry 4.0 seperti sekarang, media sosial boleh jadi salah satunya.  Media sosial sedemikian “menyerang” masyarakat dengan cepat.  Hanya dengan sekali klik, kekuatannya mampu mengubah cara pandang, menjungkirbalikan logika, hingga melemahnya daya nalar otak. Media sosial mampu menggerakan perilaku berjuta – juta orang untuk “bergerak”, bahkan di beberapa negara, media sosial menjadi senjata gerakan revolusi yang efektif di abad 21. Dunia melihat ada perubahan cara berjuang di masyarakat pada abad 21. Revolusi pun kini tak lagi soal senjata atau tank-tank baja. Media sosialah sebagai “bambu runcing”nya.

 

Saat Wael Ghonim sukses memimpin gerakan revolusi di mesir, Tahrir Square jadi saksi menyemutnya warga mesir yang ingin segera ada perubahan bagi negaranya. Dengan gerakan di media sosial Facebook, Ghonim berhasil menjadi motor revolusi penggulingan rezim Hosni Mubarak, rezim diktator yang menurut Ghonim sangat berkuasa penuh selama 32 tahun di Mesir. Wael Ghonim menjadi bagian dari kisah Arab Spring atau musim semi di arab, saat gelombang unjukrasa menentang pemerintah yang dianggap diktator itu digerakan oleh media sosial. Revolusi ala Ghonim pun berlanjut, Di Tunisia, rezim Presiden Zine El Abidine Ben Ali,     juga tumbang di bawah keperkasaan internet, beberapa negara lainnya pun mengikuti cara Ghonim dalam melakukan revolusi bagi negaranya.  Internet yang melahirkan media sosial digunakan sebagai wadah gerakan revolusi di beberapa negara.

 

Di Indonesia, keperkasaan media sosial sama terasa tremornya dengan di Mesir saat gelombang unjukrasa 212 terjadi di akhir tahun lalu. Jutaan orang memenuhi ring satu Ibukota, menuntut pemerintah menuntaskan kasus penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta basuki Tjahaja Purnama saat itu. Efeknya rupanya berdampak panjang, Sentimen masyarakat pun terbelah, gerakan ini begitu meluas di jagat media sosial. media sosial digunakan sebagai “bambu runcing”nya.

 

Jika saja keperkasaan Facebook dan teman-temannya belum ada saat kasus ahok terjadi, saat presiden Hosni Mubarak terjungkal atau kasus tumbangnya rezim presiden Tunisia Ben Ali, mungkinkah ada pergerakan massa yang luar biasa hingga mampu mempengaruhi sistem pemerintah bahkan sistem hukum? 

 

Dalam gelaran acara TED Talk, Let's design social media that drives real change, inspirator Arab Spring Wael Ghonim berkata "Jika Anda ingin memerdekakan masyarakat, yang Anda butuhkan hanyalah internet, Saya salah”. Ghonim kemudian melanjutkan “Kebangkitan Arab menunjukkan potensi terbesar media sosial, sekaligus membongkar kelemahan terbesarnya. Sarana yang sama yang menyatukan kita untuk menumbangkan diktator... pada akhirnya mencerai-beraikan kita”.

 

Prediksi Ghonim tidak meleset. Berhasil menumbangkan rezim diktator di negaranya, Ghonim demikian khawatir akibat kekuasaan dan kegagahan media sosial. Media sosial tak lagi menjadi tempat diskusi yang membangun. Media sosial menjadi arena debat panas dan saling menjatuhkan. Yang paling parah, berita palsu alias hoax berkembang biak memanfaatkan kekuatan media sosial untuk menyebar, lalu dimakan begitu saja oleh penggunanya.

 

Teknologi Kesendirian

 

Hampir seperempat abad yang lalu, John Naisbitt dalam bukunya Global Paradox (1994) sudah memprediksi, awal abad 21 semua kemampuan komunikasi yang mungkin saja kita butuhkan dapat diletakan di atas meja kerja kita, di dalam mobil kita, atau diatas telapak tangan kita. Internet memungkinkan semua orang saling terkoneksi dengan cepat melintasi batasan-batasan fisik, seperti geografi,  teritori negara, dan sebagainya. Bahkan, bisa tersambung secara kekinian (real time). Semua kubutuhan hidup manusia dapat terselesaikan diatas meja kerja maupun diatas telapak tangan kita. Kondisi ini yang mendorong banyak orang lebih memilih interaksi virtual daripada interaksi sosial. Inilah salah satu pintu masuk lalulintas informasi palsu alias hoax yang lalu lalang di dunia media sosial, tanpa pengawasan.

 

Sherry Turkle dalam Bukunya Alone Together (2011),  mengakui adanya dampak positif dari perkembangan teknologi bagi relasi antar manusia, sekaligus memperingatkan bagaimana orang menjadi ter-alienasi satu sama lain karena teknologi. Teknologi yang kita anggap membuat kita terkoneksi dengan orang lain justru membuat kita semakin sendirian di dunia ini. Kita sangat takut sendirian. Bila smartphone kita kehabisan baterai, kita cemas. Bila kita sendirian mengantri, atau bosan dalam sebuah rapat, kita mengeluarkan tablet kita. Tetapi koneksi itu tidak menyembuhkan: Ia hanyalah gejala dari kesepian kita. Pada gilirannya, koneksi membangun psyche kita: “I share, therefore I am”.

 

Menurut Turkle, ditengah teknologi yang semakin maju, sesungguhnya manusia itu rapuh dan rentan, dan yang paling parah semakin merasa sendirian. “Teknologi menggoda ketika apa yang ditawarkannya memenuhi kerentanan manusia kita. Dan ternyata, kami memang sangat rentan. Kami kesepian tetapi takut akan keintiman. Sambungan digital dan robot yang ramah dapat menawarkan ilusi persahabatan tanpa tuntutan persahabatan. Kehidupan jaringan kami memungkinkan kami bersembunyi satu sama lain, bahkan saat kami terikat satu sama lain. Kami lebih memilih teks daripada bicara” (Alone Together 2011).  

 

 

Ancaman Medsos

Munculnya internet sesungguhnya memberikan alternatif pilihan masyararakat dalam menggunakan atau mengkonsumsi media.  Fakta bahwa smartphone dan internet tak lepas dari genggaman tangan masyarakat, mendorong masyarakat memenuhi informasi dan hiburannya melalui gawai itu dengan kecanggihan internet didalamnya.

 

Mark Zuckerberg mengatakan, dengan memberikan orang kekuatan untuk berbagi, kami membuat dunia menjadi lebih transparan.  Mungkin ada benarnya di satu sisi, tapi bagaimana saat kebebasan dan keterbukaan informasi tidak terkontrol dengan baik. Siapa yang menjamin internet dengan media sosialnya hanya selalu menghasilkan perubahan yang baik dalam peradaban manusia? Di tangan remaja, internet bisa memberikan dampak baik dan dampak buruk.  Aksi kejahatan hingga kekerasan seksual pun bisa terjadi bermula dari facebook (https://news.detik.com/berita/d-2317472/7-pemerkosaan-yang-berawal-dari-perkenalan-di facebook/3). Sementara sebagian remaja lainnya justru berprestasi melalui keperkasaan internet.

 

Salah satu paradox dalam masyarakat new wave, bahwa era sekarang ditandai dengan transparansi di segala bidang. Hampir semua jejak rekam hidup kita (person/merek) ada di Google. Semua serba transparan dan tersaji di internet dan bisa diakses dengan gampang oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Privasi di era sekarang seperti dipeloroti, hidup di era sekarang seolah “dimata-matai”. Dengan gampang, orang memotret dan mengunggahnya di internet tanpa seizin dan sepengetahuan yang dipotret. Transparansi di satu sisi menimbulkan problem privasi di sisi lain. Ruang privat dilebur dalam ruang publik untuk jadi tontonan maupun konsumsi bersama.

 

Di Eropa, beberapa pemimpin Negara mulai memberikan perhatian serius terhadap keperkasaan internet.  Mulai Januari 2018, Jerman jatuhkan sanksi denda tinggi bagi setiap ujaran kebencian di media sosial yang tidak cepat ditarik oleh perusahaan media sosial seperti Facebook dan Twitter. Denda tertinggi mencapai 60 juta USD, sekitar Rp 800 Miliar lebih (http://www.bbc.com/news/technology-42510868). Di Perancis, Presiden Emmanuel Macron mulai mengatur konten, situs, dan pengguna internet yang melanggar ketentuan dapat dicabut, dihapus, dan diblokir. Perancis akan berikan denda kepada media sosial hingga 60 juta dolar AS atau Rp 800 miliar lebih jika gagal menghapus informasi palsu atau ujaran kebencian dengan cepat (http://www.dw.com/…/emmanual-macron-proposes-new…/a-42019719).

 

Saat dunia ribut-ribut atas ulah Cambridge Analytica yang menambang puluhan data pribadi dari pengguna facebook, sejumlah negara memberikan tekanan kepada situs medsos paling populer itu. Mark Zuckerberg resah hingga harus meminta maaf berkali – kali atas keteledorannya.  Bahkan parlemen Amerika Serikat sempat melakukan hak interpelasi dengan  memanggil bos facebook itu untuk bertanya langsung, Zukerberg pun mengaku bertanggung jawab atas kasus ini.

 

Di Indonesia, sepertinya mahluk media sosial itu masih mendapat tempat yang nyaman untuk berbisnis media jejaring sosial. Bahkan saat ada jutaan pengguna facebook   di Indonesia yang data pribadinya bocor ke pihak ketiga, menteri kominfo pun hanya meminta masyarakat untuk “puasa” facebook. Padahal menjelang pilpres 2019, tak ada yang menjamin bahwa media sosial bersih dari informasi bohong alias hoax maupun ujaran kebencian. Yang paling parah, jagat media sosial tanah air berpeluang menjadi palagan Character Assasination oleh mereka yang sedang berkompetisi.  

 

Celakanya, masyarakat kini bingung bagaimana membedakan informasi asli dan hoax ditengah literiasi masyarakat yang rendah, ditengah keengganan masyarakat untuk mencari tahu setiap sumber kebenaran informasi tersebut.  Sebagai pengguna facebook terbesar ke 4 di dunia, pemerintah bisa mengambil langkah  meminta Facebook untuk melakukan shutdown satu hari pada tanggal pencoblosan Pileg dan Pilpres 17 April 2019 mendatang. Kalau perlu, gerakan shutdown media sosial di hari itu dilakukan sendiri oleh pemerintah. Jika tidak, lalu lintas informasi akan sedemikian bersliweran di jagad media sosial tanpa saringan. Mulai dari upaya mempengaruhi publik hingga ujaran kebencian, akan marak di dunia jejaring sosial, termasuk ancaman hoax.

Kekuatan internet memberikan informasi apapun tanpa batas, sekaligus mengaburkan batasan itu sendiri antara yang sebenarnya dengan imitasi, antara yang benar dan yang hoax, antara yang bermanfaat dan berdampak buruk. Jika tak pandai mengelola infromasi, kekuatan internet pun menjadi paradoks dalam komunikasi.  Mengutip pernyataan Wael Ghonim di TEDTalk,  “Lima tahun lalu saya katakan, Jika Anda ingin memerdekakan suatu kaum, yang Anda butuh hanya internet. Sekarang, saya percaya jika untuk memerdekakan masyarakat, kita harus lebih dahulu memerdekakan internet”.

 

Penulis : Taufan Hariyadi 

Pengurus IJTI Jakarta Raya / Produser tvOne