OPINI

Uploaded:


OPINI : "Teror"isme di Televisi



Oleh  : Taufan Hariyadi

Pertengah Mei kemarin, pekan teror tanpa henti menyita perhatian masyarakat se-antero tanah air.  Ditengah rentetan teror bom dan serangan kepada polisi, penegak hukum terus melakukan penangkapan dan pengamanan para terduga teroris disejumlah daerah. Media massa ambil bagian dalam publikasi, mendulang rating mereduksi fungsi sosial.

 

Saat rangkaian aksi terorisme terjadi, mulai dari kerusuhan mako brimob hingga rangkaian bom di Surabaya Jawa Timur, layar televisi kita didominasi berita serangan terorisme. Program Breaking News muncul di sejumlah stasiun tv.  Televisi berita adu cepat menampilkan gambar terbaru, menggali informasi paling update. Masing-masing jurnalisnya berlomba menyampaikan dan menafsirkan kejadian di lapangan,  ditengah akses dan posisi terbatas. Jurnalis televisi di lapangan  “terdesak”  untuk segera menjawab setiap gempuran pertanyaan presenternya di studio.  Hasilnya,  sang jurnalis televisi pun terjebak menyampaikan apa yang dia dengar dan dia lihat saja, minus pencerahan tanpa klarifikasi penuh dari otoritas keamanan.

 

Klarifikasi peristiwa itu kemudian dilakukan dengan bertanya kepada warga sekitar, saksi mata, dan mereka yang “dianggap” mengetahui kronologi kejadian. Pada titik ini, jurnalis mengumpulkan informasi, hingga memunculkan interpretasi sesaat berdasarkan keterangan yang didapat. Biasanya pendalaman informasi siapa pelaku bom dan bagaimana dampak bom, menjadi fokus utama jurnalis.  Semakin banyak menghimpun informasi mengenai dampak bom itu, kata “teror”  semakin terpaparkan pada benak dan pikiran publik. 

 

Wawancara pengamat terorisme pada sebuah program di salah satu tv berita, rabu (17/5) malam lalu menyatakan, bahwa dalam dinamika terorisme sesungguhnya yang menonton aksi teror di televisi bukan hanya masyarakat biasa, tetapi sesama teroris juga.1)    Saat berita serangan teroris jadi “menu”  utama di layar televisi, dampak aksi teror yang dimunculkan dalam pemberitaan yang sedemikian masif menjadi ukuran sel – sel teroris lainnya dalam potensi menebar teror selanjutnya.  Secara tidak langsung presenter dan laporan jurnalis di lapangan makin menguatkan “keberhasilan” aksi terorisme itu. 

 

Kekuatan Televisi

 

Dalam program Breaking News, redaksi media massa memberikan perhatian penuh dan penekanan total terhadap konten yang disajikan. Program ini menjadi acara paling penting bagi televisi, mengandung  News Value  tinggi, dan harus segera tayang.  Dari serangkaian aksi terorisme kemarin,  teroris berhasil “menguasai” layar televisi Indonesia. Breaking News menjadi “saluran” teroris dalam menghidupkan dan mengalirkan dampak teror secara nyata di layar. Teroris bahkan “berhasil masuk”  kedalam rapat redaksi,  menjadi sesuatu yang “penting” untuk dibahas dan disiarkan.  Teroris “sukses” menjadi bahan agenda setting media massa esok harinya. Pemberitaan tentang teror oleh pelaku  terorisme pun  tak surut hingga beberapa hari kemudian. Dihari-hari berikutnya pemberitaan seputar teroris kian dalam tentang siapa dan sepak terjang pelaku. Reaksi ketakutan akan teror pun terus menjadi bahan pemberitaan.

 

Dalam agenda setting McComb & Shaw mengatakan, dalam memilih dan menampilkan berita, redaksi memainkan peran penting dalam membentuk realitas (Baran, Mass communication Theory, 2014: 347). Teori ini menjadikan media massa memunculkan isu atau berita yang didorong dan dikemas menjadi isu dan agenda publik. Dengan kata lain publik akan mengikuti isu atau agenda media tersebut.  Masalahnya adalah, didalam publik tak hanya masyarakat biasa, tetapi jaringan teroris  pun ada di dalamnya. Dengan kata lain, teroris “menikmati keberhasilan” mereka dalam pemberitaan media televisi.

 

Artikel Mass Media and Terrorism: A Case Study of Paris Terrorist Attacks 13/11 and Global Breaking News, terbitan scholar.google.co.id,  terorisme dan media massa tidak bisa dipisahkan. Media memainkan peran penting dalam menempatkan posisi terorisme sebagai berita utama, untuk “kepentingan” kedua belah pihak. Artikel ini menyebut bahwa aksi teroris tidak mendapat kekuatan perhatian media massa, jika  hanya terjadi pemboman di tempat terpencil tanpa akses informasi di sana, (dampak) tindakan itu tidak akan menyebar ke semua komunitas lain.

 

Boleh jadi target teroris tidak berhasil dihancurkan, tetapi dampak ketakutan terorisme telah menyebar ke seluruh dunia. Birgitte L. Nacos  dalam Mass Mediated Terrorism in the New World [Dis]Order (2002) mengatakan, terorisme dalam Breaking News sebagai berita terbaru yang sempurna, terlihat dari penghentian semua acara program televisi yang mungkin kurang ditonton masyarakat demi (Breaking News) tindakan terorisme (2002: 35). Dalam kasus 9/11, Nacos menyebutkan dua kepentingan utama terorisme, (1) menunjukkan kelemahan Amerika Serikat dan melemahkan kebebasan sipil;  (2) berusaha untuk mengubah kebijakan luar negeri Amerika serikat terhadap Timur Tengah dan negara-negara mayoritas muslim lainnya (p.38).

 

Gus Martin dalam The Information Battleground: Terrorist Violence and the Role of the Media (2006) Media berperan dalam publikasi dan penyebaran secara global menghadirkan bentuk komunikasi massa baru tentang terorisme.  Dampak aksi terorisme melalui proses penyebaran informasi,  mengirim pesan ke penonton dalam pembentukan iklim teror akibat peran aktif media  (p. 396). Televisi benar – benar dimanfaatkan jaringan terorisme untuk menebar dan memperluas  teror mereka.  Tujuannya adalah untuk mengejutkan dan menarik perhatian, serta menjadi semacam “merek dagang”. 

 

Jurnal Jihadism And Mass Media (2015) yang diterbitkan Central and Eastern European Online Library menulis, bagi kelompok teroris, mereka menggunakan media massa sebagai alat propaganda karena kejutan dan pubikasi yang disampaikan oleh gambar dapat lebih efektif daripada serangan itu sendiri. Ini adalah konsekuensi dari persaingan industri media dan minat publik terhadap berita yang sensasional, serangan teroris pun menjadi berita halaman pertama.

 

Akses Informasi

Saat serangan teoris benar–benar menyita perhatian publik, peristiwa itu begitu mendominasi layar televisi. Bahkan rabu (16/5) lalu, dalam 24 jam, lebih dari separuh porsi durasi siaran televisi berita tanah air terus menyiarkan aksi terorisme, padahal saat itu umat muslim di Indonesia bersiap menyambut Ramadhan dan sholat Tarawih.  Tokoh komunikasi massa Amerika Serikat Harold Lasswell (1926) menyebut, salah satu fungsi media massa adalah transmisi warisan budaya. Namun rupanya berita tentang persiapan umat muslim menyongsong Ramadhan, gaungnya kurang kuat ketimbang berita serangan teroris. 

 

Di Singapura, pemerintah negeri singa itu mulai memberlakukan undang-undang baru dalam penangan aksi teroris termasuk  melarang  wartawan dan anggota masyarakat meliput kejadian terorisme. Undang-undang baru itu memberi kekuatan khusus kepada polisi untuk memblokir semua komunikasi di tempat (kejadian), mulai dari foto hingga video, pesan teks dan audio, hingga sebulan sampai pihak berwenang merasa operasi keamanan dapat dikompromikan. Bagi yang melanggar, ancaman hukumannya maksimal dua tahun penjara dan denda 20.000 dolar Singapura.2)  Undang – undang ini mulai di sahkan ada 16 mei 2018 lalu.

 

Undang-undang itu muncul setelah pemerintah Singapura melihat serangan teroris di Mumbai India dan Paris. Kelompok teroris memanfaatkan siaran langsung media televisi saat itu untuk bersiap menghadapi langkah-langkah yang dilakukan aparat keamanan. Selama serangan Mumbai (2008), video-video pasukan keamanan yang bersiap-siap menyerbu Taj Mahal Palace Hotel  memungkinkan kelompok teroris mengantisipasi langkah itu.  Dalam serangan teroris terhadap toko makanan di Paris (2015), seorang teroris yang menyandera beberapa orang dapat menonton siaran langsung televisi yang memperlihatkan bagamana polisi bersiap untuk memasuki toko tersebut.3)

 

Di Indonesia, media televisi justru adu cepat menghadirkan gambar - gambar bagaimana  hiruk pikuk dan ketegangan usaha aparat kemananan menghadapi teroris. Jurnalis dilapangan berusaha  merangsek masuk diantara aparat keamanan, ikut merasakan ketegangan itu dan menyiarkannya. Sementara jaringan teoris diluar  justru melihat gambar dan suasana ketegangan aparat keamanan tersebut melalui siaran langsung televisi di tempat lain.  Video, gambar susana, dan suara yang ditampilkan di televisi benar – benar bisa menjadi ukuran “keberhasilan” bagi kelompok teoris lainnya.

 

Harold Lasswell sebenarnya sudah menekankan bahwa salah satu fungsi media massa adalah alat kontrol sosial. Media massa tak hanya memikirkan keranjingan menyiarkan berita saja, namun memiliki alat kontrol diri dalam melihat efek dan dampak dari pemberitaannya.  Media televisi di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, menjadi kombinasi dalam “menebar” teror yang dilakukan teroris jika kontennya tidak tepat.  Keduanya memiliki ikatan dan “saling menguntungkan” secara tidak langsung. Terorisme melihat media televisi sebagai alat terbaik dalam munculkan eksistensi gerakan dan pengaruhnya, sedangkan bagi media televisi, terorisme adalah fenomena yang mampu mewarnai berita global. 

 

Penulis :

Taufan Hariyadi,

Jurnalis TV, Produser di tvOne, Pengurus IJTI Jakarta Raya