OPINI

Uploaded:


Harmonisasi Keluarga Cemara dalam Bingkai Komunitas



Harta yang paling berharga adalah keluarga...

Istana yang paling indah adalah keluarga...

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga...

Mutiara tiada tara adalah keluarga...

 

Bagi Anda orangtua mungkin tak asing lagi dengan syair lagu di atas. Yah, syair lagu sinetron Keluarga Cemara. Sinetron cerdas dari ide cemerlang Aswendo Atmawiloto, yang diperankan Adi Kurdi, Novia Kolopaking, Aneke Putri, Ceria Hade dan Cemara yang dimainkan oleh Anisa Fujianti. Tontonan yang di era tahun 90-an menghiasi layar kaca ini, bukanlah sekedar tontonan seperti halnya sinteron saat ini.

 

 

Keluarga Cemara merupakan salah satu sinetron Indonesia dengan muatan pendidikan yang sangat berbobot. Bercerita tentang sebuah keluarga sederhana yang harus berjuang demi kelangsungan ekonomi, seluruh anggota keluarga ini bahu membahu untuk meringankan beban hidup. Lama sudah tayangan layar kaca tidak seindah dulu. Tontonan yang syarat dengan pendidikan dan juga syarat dengan makna. Berkaca pada Keluarga Cemara, kehidupan yang terjadi pada era milenium ini tidak bisa disamakan. Memang dari satu sisi kehidupan saat ini sudah lebih maju dan modern, namun disisi lain sikap konsumtif masyarakat dan juga moralitas yang ada tidak mencerminkan sebuah bangsa yang maju dan beradab.

 

Banyaknya anak yang berhadapan dengan hukum karena kasus-kasus tindak pidana, merupakan bukti kegagalan pendidikan yang sejak dini diberikan oleh keluarga dan sekolah. Kasus 5 orang anak memperkosa 2 anak di Purbalingga, Jawa Tengah, pada tahun 2011 silam merupakan cerita kelam perjalanan anak. Bahkan bobroknya moralitas bukan hanya dilakukan anak-anak. Dalam www.merdeka.com, dituliskan sebagai berikut:


IDS (16), siswi kelas X, kini harus menanggung malu akibat diperkosa oleh bapak kandungnya sendiri, APN (38). Tidak itu saja, SNS (40), sang paman pun juga memperkosa IDS. Informasi yang dihimpun menyebutkan, kedua pelaku, warga Dusun Serimbu seberang, Desa Serimbu, Kecamatan Air Besar, telah ditangkap Polres Landak. Keduanya, adalah ayah kandung dan paman korban. Untuk sementara ini, korban telah melaporkan kejadian pemerkosaan yang menimpanya itu kepada Satreskrim Polres Kabupaten Landak. Sebab dia mengaku telah disetubuhi pelaku secara dipaksa. Kasus pemerkosaan yang menimpa siswi di Landak itu dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Kalimantan Barat, AKBP Mukson Munandar (www.merdeka.com, 2014). 

           

Meningkatnya angka kriminalitas dewasa ini dituding karena pengaruh televisi. Televisilah sebagai biangkeroknya. Tayangan kekerasan dan perilaku anak sadar atau tidak juga mempengaruhi kondisi dunia pertelevisian di Indonesia. Efek komunikasi yang terjadi dalam konteks ini menurut Wilbur Schraam kemudian dikenal degan teori Jarum Hipodermik. Teori ini mengasumsikan bahwa media memiliki kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa.

  

Dalam tulisan ini, media massa dapat menimbulkan efek peniruan atau imitasi, khususnya yang menyangkut delinkuesi dan kejahatan, bertolak dari besarnya kemungkinan atau potensi pada tiap anggota masyarakat untuk meniru apa-apa yang ia peroleh dari media massa. Kemudahan isi media massa untuk dipahami memungkinkan khalayak untuk mengetahui isi media massa dan kemudian dipengaruhi oleh isi  media tersebut. Dalam konteks ini adalah tayangan di televisi. Gabriel Tarde (1903) berpendapat bahwa semua orang memiliki kecenderungan yang kuat untuk menandingi (menyamai atau bahkan melebihi) tindakan orang disekitarnya. Sedangkan Mc Dougal (1908) seperti dikutip Nasution (2000:54) mengatakan bahwa peniruan merupakan suatu  dorongan atau kecenderungan yang dibawa sejak lahir.

  

Jika dikaitkan dengan kondisi di era 90-an yang digambarkan dalam sinetron Keluarga Cemara, tentu sangat berbeda jauh dengan kondisi yang ada saat ini. Komunitas yang dibangun dalam sinetron itu seakan bersinergi dengan perjuangan dan didikan dari dalam rumah Cemara. Gambaran harmonisasi dan juga moralitas yang baik tersaji dengan apik di layar kaca, membuat kita yang menyaksikan kagum sekaligus haru. Haru biru Keluarga Cemara menjadi impian. Impian setiap orang tua betapa indahnya keluarga.

  

Banyak kisah yang dapat diambil dalam kisah Keluarga Cemara, mulai dari sang abah yang tidak pantang menyerah untuk menghidupi keluarganya biarpun harus menjadi tukang becak dan dia tidak malu dengan profesi tersebut. Yang kedua sang emak, dia tetap setia kepada abah walaupun dia sudah jatuh dari posisi terhormatnya, emak juga ikut membantu abah dalam menghidupi kebutuhan keluarganya dengan berjualan opak. Dibalik hubungan yang mesra antara abah dan emak, Hubungan orang tua dan anak yang penuh kasih sayangpun juga dicontohkan dalam sinetron ini. Dalam sinetron ini diceritakan bagaimana sang anak sangat pengertian kepada orangtuanya. Mereka tidak meminta macam-macam kepada orang tuanya dan sadar akan kondisi orang tuanya. Mainan - mainan yang dimiliki teman - temannya seusianya tidak mereka miliki, namun mereka tetap tidak merengek untuk dibelikan mainan tersebut, bahkan mereka ikut membantu kedua orangtuanya bekerja ada yang membantu berjualan opak di pasar ada juga yang membantu abah dalam mencari penumpang untuk becaknya.

 

Dalam konteks  kekinian, adegan tersebut menggambarkan harmonisasi yang terjadi dalam keluarga. Harmonisasi layar kaca yang menginsiprasi setiap keluarga. Harmonisasi yang harus diwujudkan nyata dalam komunitas kita, tidak dalam layar kaca. Harmonisasi yang bisa membawa angan dan impian menyamai apa yang tersaji dalam Keluarga Cemara. Semoga...


Fajar Kurniawan, S.Sos, M.Si

Penulis Adalah Salah Seorang Orangtua Murid TK A

Sekolah Alam Indonesia Meruyung, Depok